/Sofa Bisa di Mana Saja…

Sofa Bisa di Mana Saja…

SOFA yang sudah dikenal sejak lama ini sekarang sudah semakin memasyarakat. Penggunaan sofa sebagai salah satu elemen interior pada rumah tinggal, misalnya, tak lagi mengenal strata sosial ekonomi pemiliknya. Sofa dengan segala jenis, bahan pelapis, dan kualitasnya tersebar di rumah tinggal kawasan elite sampai ke pelosok.

Seiring dengan semakin banyaknya peminat sofa, para penjual sofa pun ada di mana-mana. Di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, umpamanya, Anda bisa mendapatkan dari toko penjual sofa berharga puluhan juta rupiah sampai sofa dengan kain pelapis tenun Pekalongan dengan harga Rp 1 jutaan untuk dua dudukan (two seaters).

“Variasi sofa sekarang ini sangat beragam, mulai dari kualitas busanya, kayu yang dipakai, bahan pelapisnya, pegasnya, maupun desainnya. Ini semua yang membedakan kenyamanan sebuah sofa dan harganya,” kata Roland Adam, desainer interior, tentang sofa yang umumnya dibuat untuk satu dudukan (armchair), dua dudukan (two seaters/love seats), tiga dudukan (three seaters), maupun chase launge.

Bahkan, ujarnya menambahkan, sejak tahun 1970-an di Indonesia pun sudah dikenal sofa-sofa yang bentuknya tidak “standar”, seperti sofa yang bisa menampung empat orang duduk (four seaters), sofa L-shape, dan sofa bed.

“Sofa four seaters biasanya dipakai untuk dua orang yang ingin duduk sambil setengah tiduran, sedangkan L-shape banyak dipakai pada ruang yang terbatas dan diharapkan bisa menampung empat orang. Kalau chase launge adalah sofa yang salah satu sisinya biasanya diberi tempat tangan. Chase launge ini biasanya dipakai untuk membaca sambil tiduran atau untuk rileks. Model sofa ini biasanya untuk satu orang,” ujar Roland.

Sementara sofa bed yang semakin populer sekitar 20 tahun terakhir ini awalnya banyak dipakai untuk rumah-rumah berukuran mungil. Keterbatasan ruang pada rumah mungil membuat pemiliknya memilih sofa bed. Sofa ini bisa digunakan sebagai tempat duduk sekaligus dapat menjadi tempat tidur apabila diperlukan.

MENURUT Erwin Firmansyah, desainer interior yang bertanggung jawab atas pengembangan desain produk mebel Vivere, meskipun orang Jawa, misalnya, mengenal amben sebagai tempat untuk orang berbincang-bincang dalam suasana yang lebih akrab, pengaruh Belanda terhadap bentuk sofa yang ada sekarang ini relatif besar.

“Dulu, mungkin hanya raja, kaum bangsawan, orang terhormat, atau yang dituakan saja yang duduk di kursi. Namun rata-rata orang Jawa duduk di bawah. Masuknya Belanda ke Indonesia membawa pula ’budaya’ kursi pada penduduk di Pulau Jawa,” kata Erwin.

Sampai akhir tahun 1970-an, sofa dalam bentuk seperti yang dikenal pada masa awalnya masih banyak dijumpai di rumah- rumah penduduk di kota besar. Sofa untuk dua atau tiga orang duduk itu biasanya bersandaran lengan dari kayu. Sebagian sofa lainnya memakai sandaran lengan maupun punggung dari kayu dan hanya dudukannya saja yang diberi pengempuk dan pelapis kain atau kulit.

“Sebenarnya sofa dengan sandaran lengan dari kayu itu yang paling awet. Dalam arti, sandaran kayunya tidak cepat rusak sehingga orang cukup mengganti pengempuk dan kain pelapis dudukannya saja. Sementara keringat orang kan biasanya di tangan. Kalau sandarannya juga berpelapis, bisa dipastikan di bagian inilah kain sofa akan terlihat lebih cepat pudar atau kotor,” tutur Erwin.

Roland Adam menambahkan, sofa biasanya identik dengan tempat untuk bersantai, bisa menciptakan suasana intim, nyaman, dan mudah menumbuhkan rasa akrab di antara pemakainya. “Sofa juga bisa dijadikan mebel multifungsi. Artinya, dia bisa jadi tempat untuk makan, sosialisasi, sampai tidur,” katanya.

Sementara Erwin melihat sofa bisa juga dijadikan sebagai salah satu status simbol pemiliknya. Sofa dengan bahan beludru sering kali dianggap lebih “bergengsi” daripada sofa biasa. Demikian pula sofa kulit dianggap bisa membuat pemiliknya tampak lebih berwibawa.

“Kalau diperhatikan, biasanya orang yang mementingkan status atau untuk menunjukkan bahwa dia ’berselera’ aristokrat suka memilih sofa yang dihiasi dengan ukir-ukiran. Semakin rumit dan besar ukir-ukirannya sering kali dianggap semakin menunjukkan kewibawaan dan status sosial tinggi,” tuturnya.

KALAU awalnya sofa dimiliki oleh kalangan tertentu saja, sejak tahun 1990-an sofa berbahan pelapis tenun Pekalongan pun mulai banyak disukai orang. Hardjono, pimpinan Softy yang membuat sofa berlapis tenun Pekalongan di bilangan Bintaro, Jakarta Selatan, mengatakan, ketika krisis moneter terjadi semakin banyak orang yang beralih ke sofa berpelapis tenun.

“Sofa berpelapis kain tenun ini relatif banyak coraknya, harganya murah, suplainya tidak terbatas, amat fleksibel, dan harganya relatif murah sehingga orang yang bosan pun tidak merasa sayang bila setahun sekali ingin mengganti kain pelapisnya untuk mengganti suasana ruangan di rumah,” tutur Hardjono, yang membuat sofa sejak tahun 1992 dan melengkapinya dengan lokakarya (workshop) kain tenun Pekalongan pada tahun 1996.

Hal lain yang membuat sofa berpelapis tenun Pekalongan disukai orang adalah fleksibilitas pembuatan maupun ukurannya. Hardjono bisa membuat pesanan sofa hanya dalam waktu sekitar satu minggu. Ukuran sofa maupun kain pelapisnya juga bisa disesuaikan dengan selera dan ukuran ruang pemesannya.

“Kami punya lebih dari 500 corak kain tenun, mulai dari yang polos, corak garis, corak kotak, maupun polos dengan tekstur kain seperti anyaman. Semua itu bisa dipadupadankan untuk sofanya saja, maupun lengkap dengan bantal, bahkan sampai gorden dan kain penutup tempat tidur sekalipun,” katanya menambahkan.

Jika dibandingkan dengan sofa hasil rancangan desainer interior-apalagi impor-fleksibilitas itu bisa menjadi nilai plusnya. Sementara sofa rancangan desainer interior yang tentu saja lebih nyaman harus melalui pembuatan yang relatif lebih rumit.

“Ada rangka sofa yang harus bagus. Artinya, kalau rangkanya memakai kayu, harus yang tidak berkutu. Sofa yang nyaman dan aman juga menggunakan pegas yang baik, pengempuk busa dengan tiga jenis kepadatan, dari bawah yang hard, medium, soft, dan dilapisi dakron di atasnya agar tidak panas dan bentuknya tetap bagus,” kata Hardjono.

Dalam pemilihan sofa tampaknya ada harga, ada “barang”. Artinya, Anda harus rela mengeluarkan uang lebih banyak untuk mendapatkan sofa yang lebih nyaman saat digunakan.… (CP)